Wednesday, March 13, 2013

marah: antara kontrol ego dan pembenaran

seringkali tanpa kita sadari kita terlibat dalam sebuah perselisihan yang sebenarnya tidak kita inginkan. misal saja sedang mengendarai motor atau mobil kemudian ada yang nyelonong gitu aja yang hampir bikin kita celaka, pasti kita disitu mengumpat baik dalam hati atau justru memakinya. sering kali hal ini juga terjadi pada saya, gak menutup kemungkinan bahwa memakinya lebih sering saya lakukan. menyadari betul apa yang saya lakukan memang tak pantas ditiru tapi ada daya, kadang kontrol diri saya lepas begitu saja entah kemana. 

belum lama ini saya juga marah sekali kepada seorang wanita yang saya rasa cukup aneh ketika datang dan sedikit menanyakan kedekatan dengan teman pria saya, buat apa gitu? awalnya saya rasa mungkin dia hanya melakukan silaturahmi, makin kesini saya mengamati dia sedang melakukan pembenaraan mengenai hidupnya yang sangat suci itu, sebenarnya saya tidak perlu mengumpat mengenai hal ini, toh teman pria saya lebih sering bersikap cuek dan masa bodoh, tapi semakin hari kami semakin terganggu dengan si wanita yang akhirnya saya luapan di pesan singkat. seberusaha mungkin saya menjaga ego untuk tidak marah kepada orang yang "kami" anggap tidak ada kaitannya dengan hubungan kami, semua pembenaran yang dia lakukan pun kami anggap seperti cerita sinteron yang kaimu lupakan setelah mematikan tv, tapi kali ini kelewatan. sebenarnya yang paling membuat ego saya tidak bisa terkontrol bukan masalah siapa dia, bahkan dia wanita masa lalu  teman pria saya saja saya tak peduli, cerita kalian tak lebih menarik dari artikel Durkheim yang harus saya review minggu ini, hahaha.... tapi ya itu lho, saya gak kenal wanita itu, eh melakukan pembenaran banyak hal dengan mengatakan yang saya rasa dia tak tahu sedikitpun.  yaaaa kalo kata orang jakarta tu "gw kenal lo aja engga"

singkat cerita saya marah dan sama sekali tidak bisa menahan ego ketika hal ini terjadi, saya tidak sedang melakukan pembenaran siapa yang benar dan salah, tapi saya sedang marah karena ada hal lain yang membuat saya muak pada akhirnya, buat anda yang mengatakan hidup anda tertata dan segalanya yang gak penting itu, buat saya kebenarmu itu tidak harus jadi kebenaran dengan "K" buat saya. 

marahnya saya karena saya muak, bukan pembenaran dan pembelaan. begitu juga tulisan ini. dan saya rasa hal ini sering terjadi ke banyak teman. buat teman saya terkasih yang membaca tulisan ini, kadang memang kita gak bisa mengontrol ego untuk tidak marah dan melakukan pembenaran, tapi percayalah bahwa rasa "marah" itu akan hadir di diri kita tanpa kita mau dan rencanakan,,, berbahagialah dengan amarahmu.... 

No comments:

Post a Comment