Monday, September 22, 2014

Hampir Setahun




Hai kamu yang tidak pernah dibangku kiri
terlalu basa basikah aku jika bertanya apa kabar dirimu mengingat ini sudah mau setahun bersamaku,
Baikkah? Bahagiakah?


Hai kamu yang biasa memegang rokok dengan tangan kiri,
terkagetku menyadari bahwa ini sudah hampir setahun, dulu kita menyambut awal-awal tahun dengan berbagi isi kotak coklat dan tertawa ditemani pahit fermentasi, tapi sekarang, aku lebih memilih menikmati segelas minuman hangat, dan mungkin kamu tetap dengan kotak kecil berwarna merah putih berisi 20 batang.


Hai kamu selalu memegangku dengan tangan kiri,
Tak pernah ada lagi salam selamat,Tak pernah ada lagi sodoran tawaran, tapi ternyata dunia tak ada yang berubah,
terakhir ku lihat kamu melintas dengan gagah seperti biasanya, kamu didekatku, masih dengan harum yang sama,
Tak ada amarah, tak ada gerah. Hanya saja disitu aku tidak sadar, bahwa setahun bersama dengan perayaan kecil kian dekat.


Hai kamu yang suka menggigiti kuku tangan kiri
disini aku mencoba memberi kabar, bahwa aku bahagia menyadari ini sudah hampir setahun
Ya, setahun pertama bersamamu...

Sebuah tanda bahwa aku sudah benar-benar kembali hidup,
sebuah pertanda bahwa aku telah berubah menjadi seorang yang jauh lebih baru dari setahun lalu...

Hai kamu, sayangku
ini sudah hampir setahun

Wednesday, September 17, 2014

truly blessed

setelah sekian lama akhirnya Tuti merasa, bahwa tidak hanya yang beruntung mendapatkan Tuti, tapi sebaliknya juga,,,
Tuti makin yakin, bahwa hubungan Yuda dan Tuti ini memang dua arah..
memang hubungan yang dia impikan,,,

Siang itu dengan sengaja Tuti menemui Yuda yang sednag duduk minum kopi di salah satu warung kopi. Dengan nada bersemangat Tuti menceritakan aktifitasnya seharian, bagaimana Tuti bertemu teman-teman baru di lingkungan baru. Yuda tidak menimpali sedikitpun, hingga akhirnya Tuti merasa aneh...

"Yuda, kamu dengerin aku ngomong ga sih?"
atau.....

kemudian Yuda tersenyum kecil, sambil menyampaikan ke Tuti
"kamu seneng ya, temennya banyak sekarang, jangan lupain aku ya nantinya. tetep nyusulin aku ke warung kopi ya, tetep nunggu aku datang setiap malam minggu ya"

Tuti diam...
air matanya mulai menetes..
Tuti sadar, bahwa dia terlalu bersemangat menceritakan semua hal baru dalam hidupnya, termasuk teman baru dan lingkungan baru tanpa pernah mendiskusikan lebih lanjut dengan Yuda...
Kali ini Tuti merasa bersalah....

Tuti mulai merasa bahwa Yuda mulai ketakutan kehilangan Tuti yang sekarang, kehilangan Tuti yang selalu deg-degan menunggu Yuda datang kerumahnya.

Kali ini tidak hanya Yuda yang merasa beruntung mendapatkan Tuti, tapi Tuti pun merasa luar biasa beruntung di bulan kesekian bersama Yuda...
iya...
bulan ke sebelas,,,

sebentar lagi genap satu tahun Yuda dan Tuti bersama...
sama-sama merasa beruntung
sama-sama merasa bahagia
sama-sama merasa deg-degan setiap mau ketemu

cerita Yuda dan Tuti....

Sunday, June 15, 2014

teruntuk tempat penuh kesabaran

selamat akhir bulan ke delapan dari aku 
tanpa perayaan, tanpa kue, tanpa lilin
ini tetap membahagiakan, 
bersamamu di delapan bulan yang membahagiakan...
(Surat dari Tuti untuk Yuda, akhir bulan Mei) 

siang itu Tuti menulis surat dengan sengaja untuk Yuda, ia merasa bahagia bukan kepalang karena ini akhir bulan. akhir bulan dimana Yuda dan Tuti selalu merayakan anniversary hubungan mereka. senyum mengembang sepanjang hari tergambar jelas dari wajah Tuti siang itu... 
berharap mendapat ucapan dari Yuda yang memang selama ini tidak pernah membalasnya. 
pada setiap surat yang Tuti tulis, ia memang tidak pernah berharap banyak terkait balasan. Yuda sudah memberi kabar ke Tuti bahwa ia sudah membaca surat dari wanitanya itu saja Tuti sudah bahagia.... 

Tuti sangat sederhana, bahkan saking sederhananya dia tidak pernah menuntut apapun dari kekasihnya. Yuda memang tidak pernah memanjakan Tuti dari awal, Tuti pun paham situasi yang dialami Yuda saat ini. 

sedikit cerita tentang pertemuan Yuda dan Tuti. sebenarnya keduanya bukan baru saja kenal. besar di satu atap jurusan, mereka memang saling mengetahui, terpaut jauh antar angkatan Yuda dan Tuti pun cenderung acuh tadinya. hanya saling melempar senyum simpul kalau keduanya berpapasan. 
hingga suatu hari mereka memang dipertemukan sebagai parter kerja dalam sebuah pekerjaan, Yuda dan Tuti masih biasa saja awalnya. hingga akhirnya mereka saling bertukar nomor telepon karena pekerjaan. 
saat itu Tuti memang tidak sedang sendiri, Tuti mempunyai teman dekat yang menurut informasi beberapa teman sudah mau menikah dengan Tuti, Yuda pun tau hal itu. 

lambat laun, komunikasi diantara mereka semakin sering terjalin. Yuda yang intens menghubungi Tuti akhirnya membuat Tuti nyaman dan merasa membutuhkan Yuda saat itu. bermula tempat cerita paling hangat, Yuda pun mendekati Tuti dengan ramah. perlahan tapi pasti Yuda menawarkan sesuatu yang baru yang memang tidak Tuti dapat dari teman prianya. 

akhirnya, Tuti berkorban untuk meninggalkan teman prianya saat itu demi Yuda. Yuda yang memang baru dikenalnya. Tuti sama sekali tidak tahu lingkungan Yuda, tidak kenal teman-teman Yuda, yang Tuti yakini bahwa Tuti saat itu nyaman dengan Yuda. Yuda menawarkan sesuatu yang baru. 

delapan bulan sudah Tuti dan Yuda berjalan beriringan sebagai pasangan, bukan tanpa badai. tidak jarang Tuti mengandalkan air matanya dalam hal-hal mungkin yang dianggap Yuda sepele. semakin hari Tuti sebenarnya semakin takut menjalani, tapi Tuti masih percaya, bahwa ada mimpi indah mereka berdua didepan sana. Bukan surga dunia atau janji sehidup semati yang Tuti mau saat ini, yang dia yakini memang Yuda masih yang terbaik diantara yang terbaik. entah tahun depan, tahun depannya lagi. Tuti tidak pernah berdoa untuk merubah sedikitpun perasaannya terhadap Yuda. 

didelapan bulan pertama hubungannya dengan Yuda, Tuti hanya berharap ini tidak akan jadi delapan bulan saja, tapi jadi perayaan sampai nanti,

Hey kamu Yuda, pria paling beruntung yang mendapatkan Tuti, mendengar cerita tentangmu saja aku iri setengah mati. kamu mendapatkan Tuti yang sabar dan tidak menuntutmu akan banyak hal. yang mencintaimu dari awal sampai sekarang tanpa meminta kamu mengucapkannya setiap hari, alangkah baiknya perlahan kamu memperhatikan dan memperlakukan Tuti dengan baik, dengan semestinya. Tuti selalu menunggu surat balasanmu, biarpun itu kaku... 
saranku, sebelum kamu kehilangan Tuti, dekaplah... 
pegang erat perlahan.... 





-cerita dari Tuti, sore itu- 
untukmu Tuti, tetap jadilah perempuan yang sabar untuk masa depan, jadilah kamu yang memang kamu mau... 

Wednesday, June 4, 2014

kemana perahu berlabuh

angin segar sore itu bagi Tuti dan Yuda yang duduk di sudut warung kopi. 
mereka duduk berdua sambil sibuk memainkan telepon pintar yang lebih setia dari pasangan mereka  mungkin... 

lama mereka  hanya sibuk dengan smartphone masing-masing, akhirnya tuti membuka obrolan mengenai hubungan diantara mereka. Tuti yang akhir-akhir ini merasa hubungannya begini-begini saja tanpa peningkatan yang membahagiakan, merasa perlu mengkonfirmasi ke Yuda terkait hubungan mereka 

Tuti "mas.., 
Yuda "apa
Tuti "mas sayang aku kan?" sambil berkaca tuti mulai memberanikan diri membuka obrolan 
Yuda" ah kamu drama, ya sayang dong, kenapa gitu kok nanya begitu" 
Tuti" aku takut sama hubungan kita mas, takut ga berarah. sejak awal tujuanku menjalani hubungan ini untuk menikah" 
Yuda" iya aku tau, 
Tuti "terus?"
Yuda" ya aku serius, tapi tidak menikah dalam waktu dekat. aku bakalan menikahimu, tapi tidak dalam waktu dekat" 

Tuti cuma bisa diam sore itu, sambil membayangkan hal terburuk dalam hubungannya satu dua tahun kedepan. Tuti memang menaruh harapan besar dalam hubungannya kali ini. Dia merasa memang orang sepeti Yuda lah yang dia cari selama ini, tapi apalah arti harapan Tuti kalaupun itu memang hanya bisa menjadi harapan.... 

karena mulai lelah Tuti pun mengatakan kepada Yuda "aku mau menikah di bulan Juni, 3 tahun lagi... 2017, kamu siap???" 

Yuda sambil menghisap rokoknya sore itu menjawab santai "ya kita lihat, show must go on or..... " 

Sore itu bagai petir bagi Tuti, dia pikir kalimat akan berpisah tidak akan pernah di sampaikan oleh kekasih dambaannya itu, ternyata tidak. Yuda tanpa beban mengatakan bisa jadi aku berlabuh denganmu, atau aku berlayar meninggalkanmu..... 

Sambil meminum kopi kesukaannya Tuti hanya bisa berdoa dalam hati, kalaupun dia menjadi tempat berlabuh, itu memang pelabuhan terakhir bagi Yuda, bukan hanya singgah sebentar
kalaupun itu jadi rumah, maka jadi rumah segala tujuan Yuda, bukan rumah hanya untuk singgah... 

dalam doa Tuti selalu menitipkan Yuda dalam keberkahan...
selamat berlayar Bung.... 


*cerita sore diwarung kopi* 




Sunday, May 18, 2014

kembalinya teman lama, dan ternyata....

harusnya cerita ini muncul diawal hubungan kami,
bukan sekarang, ketika kami sudah sama-sama bertanggung jawab lebih setiap harinya
maaf kamu bagai debu didepan halaman rumah kami
kami hanya perlu menyapunya tanpa sedikitpun ragu
maaf kamu terlalu mengganggu....

singkat cerita, sore itu saya di hubungi seorang teman lama yang saya kenal di awal bangku perkuliahan. teman asal ibu kota yang saya kenal dari teman lain. kami beda jurusan beda temen main pokoknya selama kuliah gak pernah duduk bersama untuk ngobrol, apalagi belajar. ya kami hanya saling sapa kalo simpangan aja dikampus, tanpa lebih.

sore itu, ingat betul hari senin saya dihubungi si teman lama. mengajak untuk duduk bersama makan es krim di akhir pekan. oke saya putuskan untuk mengiyakan. dengan bahagia saya sore itu menceritakan ke teman lelaki saya yang 7 bulan terakhir ini ada di hidup saya. sambil menggebu saya bilang " eh, weekend nanti aku mau makan es krim sama si teman, kamu kenal gak? dia satu kampus sama kita kok" 

karena dia menggeleng kepala, saya gak habis akal untuk menunjukkan fotonya, karena kami saling follow di instagram. kemudian si teman masih menggeleng sambil berucap "aku gak kenal dia siapa, gak tau juga, tapi kalo mau pergi ya gapapa, hati hati" 

dengan semangat, singkat cerita datanglah hari yang ditunggu, semangat sejak pagi menunggu jam yang kita sepakati untuk bertemu. akhirnya kita bertemu di sudut pojok toko es krim sore itu, dan kagetnya adalah si teman lama tadi memang makin cantik, makin langsing dan makin aduhai pokoknya, tapi justru pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya bukan menanyakan kabar, justru berucap "oh kamu sekarang pacarnya mas.... "

sambil kaget saya jawab " iya, kenapa ya, ada masalah ya"  saat itu sih detak jantung masih biasa aja, terus si temen masih ngotot " uda berapa lama" , dengan perasaan makin curiga saya menjawab santai "oh baru kok, baru 7 bulan terakhir, oh ada apa ya" 

kemudian obrolan dimulai dari si teman lama yang menceritakan pernah dekat dengan teman lelaki saya tersebut, menceritakan banyak hal yang saya sendiri juga tidak pernah tau. waktu itu dipikiran saya hanya satu " siapa bohong siapa dibohongi atau siapa dusta? saya, kamu atau pacarku?" 

sore itu memang saya memilih untuk mendengarkan semua cerita dan penjelasan si teman lama, biarpun dalam hati saya sudah memutar otak bagian mana dulu yang mau saya tanyakan ke pacar. dalam hati saya, wah ternyata ada yang ngaku gak kenal ternyata...
akhirnya malam datang, dan saya memutuskan pulang....

sepanjang jalan pulang saya memang tidak menghubungi teman lelaki saya, sepanjang jalan saya berfikir, jadi si teman lama punya maksud tertentu setelah lama gak ketemu. cuma mau cerita tentang pacar saya. haha...

maaf ya, ceritamu kurang menarik...
dari semua cerita si teman lama, saya putuskan untuk menkonfirmasi ke pacar malam itu juga, ternyata benar, kenal saja tidak, apalagi seperti yang diceritakan... huh,,,

jadi apa dong ini namanya?
angin?
debu?
atau? entahlah,,,

tapi maaf, untukmu teman lama yang cukup selo menemui saya sore itu, dan menceritakan yang saya memang tidak tahu,
maaf, kami tidak serapuh yang kamu bayangkan...
selamat tinggal kamu, tempatmu cukup di warung es krim sore itu,
tidak ada tempat lain untukmu bagi kita...

tidak cukup manis di banding es krim yang kupesan...

kamu debu
kamu angin lalu.... pergilah...

Thursday, May 15, 2014

Pilih, Katanya

Hidup ini pilihan, katanya.
Sialnya (atau untungnya, entah dari sudut mana diliatnya sih), saya bukan orang yang pintar milih.
Ikutin kata hati, katanya.
tapi kemudian, sebagai manusia kita dituntut untuk ikuti kata pikiran, merasionalisasi pilihan kita. Dituntut untuk memilih sesuatu yang bukan karena kemauan, tapi karena kebutuhan. Karena kalau ngikutin kemauan saja, kita mendadak jadi manusia yang egois, jadi anak yang durhaka, atau jadi pekerja yang males2an.
Itu semua bisa saja cuma anggapan orang lain, tapi kita sendiri sering sudah internalisasi, saat kita tidak mengikuti norma “kepantasan” masyarakat,  kita merasa bersalah, merasa harus, merasa berkewajiban memilih kebutuhan daripada kemauan.
Jangan milih pakai hati, milih pakai otak, katanya
Entah siapa yang berwenang nentuin kalau hati tidak sepenting otak? lupakah kita kalau “hati” kita terbentuk lebih awal daripada otak saat kita masih dalam kandungan?
Pilih lagi nanti, katanya
Nyatanya, hidup saya penuh pilihanception. Pilihan dalam pilihan. Total mind fuck dan sering jadi sumber patah hati. Saat saya harus memilih X saat saya menginginkan Y. Saat tidak ada waktu untuk menimbang pilihan yang sebaiknya dipilih. Saat pintu “pilih lagi nanti” tertutup karena konsekuensi dari pilihan pertama.  Karena saya bukan time lord yang bisa mampir-mampir ke masa lalu, bukan pula Nobita yang punya Doraemon dengan mesin waktunya. Ibarat kata roman picisan, ini udah dilamar ama si A yang baek, tapi ngarep mukjizat kalo si B yang bad boy berubah jadi baek dan ngelamar juga.
hah, taulah
Hidup ini pilihan. Semacam buku “pilih sendiri petualanganmu” tapi nyata.

Monday, April 21, 2014

Lelaki dan Perempuan Semak

Seorang lelaki berlayar pada suatu hari. Entah sudah berapa satuan waktu ia habiskan di laut untuk menghidupi hidupnya. Entah pula sudah berapa banyak percakapan yang ia habiskan dengan matahari. Dan hari ini, langit kelihatan cerah sekali.

Si lelaki menaiki kapalnya dengan begitu sayang. Ia menjejakkan kaki-kakinya yang besar dengan sebisa mungkin tanpa gebrak di lantai kapal yang kayu. Ia kemudian memandang langit, lalu mengembuskan napas ke hatinya yang sedang penuh. Ia merasa, angin hari itu cukup untuk bisa membawanya pulang kembali ke daratan. Tapi, ia kekurangan sesuatu ketika mendongakkan kepala ke tiang layar.


Sang lelaki meninggalkan kain layar kapalnya di dua tangan kurus seorang perempuan yang tinggal di dalam semak.

Setiap kali menuju dermaga, lelaki selalu akan melewati rimbunan semak yang disangga batang-batang besar dan beralas karpet ilalang. Kadang-kadang, ketika si lelaki beruntung, ia akan mendapati seorang perempuan berambut sebahu duduk di batas antara semak dan rerumputan, meninggalkan hanya sebetis kakinya dan wajahnya saja yang kelihatan menyembul dari semak. Perempuan itu biasanya sedang menghadapi buku kecil bersampul merah darah dan pena bertinta darahnya sendiri yang sungguhan. Si lelaki cuma bisa senyum-senyum saja.

Satu kali, si lelaki melihat si perempuan kuyup bersimbah entah apa. Wajah perempuan menggelap kala itu. Ketika lelaki menghampiri si perempuan, ia sempatkan menyeka sebulir apa itu yang menguyupkan si perempuan. Ia pikir itu air. Nyatanya, itu tidak sekadar air. Itu air mata.
“Tidak apa-apa. Saya biasa lara,” katanya seraya mendudukkan diri di karpet ilalang yang berantakan. Hati si lelaki seketika jatuh menembus inti bumi. Ia mengeluarkan sehelai besar kain putih dari kantong hatinya, menyerahkannya, dan diterima oleh dua tangan kurus si perempuan.

“Pakai ini, dan lupakan lara,” kata sang lelaki. Si perempuan cuma bisa memiringkan lehernya ke kanan ke kiri dalam gerak yang sangat lambat, dan memandang wajah lelaki yang memintanya melupakan lara.

Ketika si perempuan menerima pemberian kain putih darinya dengan hati yang penuh, si lelaki inginnya menari-nari hingga ke langit tak berbatas. Tapi melihat perempuan itu masih sedih wajahnya dan air mata di tubuhnya belum juga kering, si lelaki putuskan hanya membiarkan kupu-kupu saja yang menari dalam tubuhnya.

Kain putih itu kain layar kapalnya, yang sekarang membuat kapalnya tidak lengkap, tetapi membuat hatinya begitu sempurna.
Lelaki merasa perempuan lebih membutuhkan kain itu untuk atap rumahnya yang ada di semak itu. Kain itu juga mungkin mampu memayungi hatinya dari apa pun yang hendak menyakitinya. Padahal, kain layar itu juga adalah nyawa bagi si lelaki. Kain itu yang bisa membawanya kembali ke darat dengan selamat. Tapi, si lelaki kini tahu, bahwa itu bukan satu-satunya.

Tanpa kain, kapalnya tetap akan menemukan daratan. Karena, hati si lelaki sudah menemukan arah pulang. Ke perempuan yang berumah di semak itu.

Si lelaki diam-diam jatuh cinta pada si perempuan. Ia mencintainya, dan mencintainya tambah lagi.

Friday, February 28, 2014

maaf kenangan

Kenangan
Seringkali seperti kumpulan mimpi indah
Meski tak jarang pula
Ia Menjelama
Serigala
Dengan seringai berkilat
Dan kuku tajam yang mudah
Meninggalkan jejak

Benar adanya kamu memang paling tahu caranya membahagiakan aku, Tapi sore lalu bagai petir bagi aku, waktu kamu menceritakan sebagain masa lalumu dengan perempuanmu kala itu. Bukan tidak bisa menerima keadaan, tapi justru berbalik, ya ini aku... Aku yang sudah memutuskan menerimamu dengan sepaket masa lalumu.
Ah,,, sayang,,,,
Semalam aku memikirkannya, bagaimana bisa aku tidur nyenyak dengan penghantar ceritamu. Cerita dimana kamu mencintainya kala itu. Dimana dia pernah menjadi bagian yang membahagiakan dalam sepenggal ceritamu. Harusnya aku tak perlu setakut ini.

Harusnya aku tidak perlu segelisah ini.
Ya dia yang membuatku ragu akan kamu
Ya dia yang membuatku berfikir dua kali untuk tetap menerimamu
Ya dia yang membuatku akhirnya berfikir ternyata aku, hanya dapat setengah dari cerita membahagiakan itu. Setengahnya dia bawa pergi....
Ah sudahlah,,
Ini bukan hal penting yang perlu kita ributkan. 

Kaget iya...

Sedih iya, tapi senengnya juga iya.. 


maaf kenangan, kamu seringkali mengunciku dalam pintu ajaib... 

Sunday, February 16, 2014

Entah ini namanya apa.


"Andai melupakan semudah mencuci piring yang kotor lalu kotorannya hilang, pasti pikiran ku tak akan penuh dengan kenangan."



Sudah hampir memakan waktu beberapa hari, bulan dan bahkan tahun, seharusnya lukanya benar-benar sembuh dan tak akan pernah lagi terasa sakit bila disentuh. Tapi ini? Tersentuh sangat halus dengan kenangan pun perihnya bagaikan luka yang ditetesi oleh cuka. Entah ini namanya apa.

Banyak yang berkata percuma aku seperti ini, padahal kau tak melakukan hal yang sama. Tapi aku tak perduli. Justru aku nikmati sakitnya, ditiap kenangan yang melintas menyentuh luka. Entah ini namanya apa.

Merindukan mu harusnya bukan lagi menjadi tugasku. Sebab tak ada lagi ikatan diantara kita. Melupakan mu harusnya menjadi pekerjaan ku sekarang. Yang sudah ku tekuni, tapi terus saja tak berhasil.

Entah ini namanya apa. Mungkin aku belum terbiasa. Sebelumnya aku terbiasa menunggu, menunggu kamu. Tapi kini? Rasanya ingin selalu memejamkan mata dan bermimpi bahwa aku masih menunggu mu. Setidaknya kau di mimpi bisa datang untuk menemui ku, tidak seperti nyatanya.

Seperti berada di tengah ribuan orang, tapi tak ada satupun yang mengenali ku. Meski kini sudah bisa bebas kembali menghirup udara, tapi tetap saja ruang di dada seperti rumah kosong. Hampa.

Belakangan, aku tak suka sendiri. Bagai ada perang di pikiran ku, di satu bagian memperjuangkan hak nya untuk melupakanmu, dan di bagian lain juga memperjuangkan hak nya untuk masih mengingatmu. Entah mana yang akan jadi juara dari perang itu. Karena aku sendiri memilih untuk menghindar, dengan tangisan.

Andai ada seseorang yang menawarkan jasa untuk bisa menghapus tiap kenangan, aku pasti akan menyerahkan apa saja untuk bisa membeli jasanya. Agar tiap mengingatmu, tak ada lagi sakit yang ku rasa.

Ku biarkan tiap tetesan air mata mengalir dalam tiap kata. Agar satu per satu dari kata itu mengalir bersama air mata dan menyatu membentuk kalimat-kalimat untuk menjelaskan segala yang terjadi saat ini. 

Sebab aku tak mengerti, terlalu rumit dari soal matematika sekalipun. Terlalu sulit diartikan maksud semuanya, padahal masih menggunakan bahasa yang biasa ku gunakan. 

Di akhir kalimat hanya ingin berkata, bahwa aku masih rindu. Entah ini namanya apa.

Kini aku hanya bayangan, yang akan dilupakan.

Sebelumnya kita tak pernah saling mengenal;

tak pernah mengetahui nama,
dan tak pernah mengetahui bagaimana bunyi suara masing-masing dari kita.

Tak pernah juga sebelumnya aku bermimpi bisa mengenal mu;
tak pernah pula berdoa untuk dipertemukan dengan mu,
dan tak pernah berharap untuk bisa melalui hari dengan mu.

Bahwa sesungguhnya kamu pernah menjadi syukur yang tak henti aku panjatkan,
kamu pernah menjadi pencipta dari segala tawa,
dan kamu pun pernah menjadi sosok yang ada saat ku membuka hingga memejamkan mata.

Tapi seketika yang sudah biasa menjadi tak biasa;
tak biasa aku terlalu lama kau biarkan sendiri,
tak biasa aku terlalu lama menunggu hanya untuk sekedar mendapat kabarmu,
dan ini tak biasa, bukan seperti kamu saat pertama kita bertemu muka.

Dan itu adalah awal aku menjadi sebuah bayangan.....

Bersiap pergi dari hati mu meski dengan kaki yang berjinjit,
mengunci rapat mulut ini agar tak ada isak tangis yang terdengar,
menahan sekuat tenaga air mata yang telah penuh di penampungannya,
dan membiarkan hati ini menahan sakit dari segala perpisahan yang akan dimulai.

Berbahagialah kamu...
yang mungkin dulu banyak waktu mu kau habiskan dengan ku, dan itu percuma.
yang mungkin dulu berada kita dalam satu dekapan, dan kini hanya saling merasa kedinginan.
yang mungkin dulu tertawa dalam ranah canda yang sama, kini tertawa dengan orang yang berbeda.
yang mungkin dulu banyak kisah kita cipta, kini hanya dikenang, diingat, lalu dilupakan.

Dan aku siap, menjadi bagian dari hidupmu dulu, menjadi kenangan dalam ingatanmu, menjadi bayangan dalam retina matamu, yang akan kamu lupakan.



-untukmu yang kembali disaat tidak tepat-
terima kasih.... 

Tuesday, January 14, 2014

seperti gula

Selalu seperti gula, ketika orang jatuh cinta, lalu mulai meleburkan hari-harinya, mungkin juga hatinya pada yang dicinta.
Kadang jadi terlupa pada diri sendiri. Lupa bahwa bisa pergi ke warung makan sendiri, bisa pergi ke supermarket sendiri, bahkan jadi lupa bisa pergi ke toilet sendiri.

Sepertinya, sudah mulai tumbuh sepasang kaki tambahan di samping kaki yang lain. Jadi jika kaki yang sepasang tidak ikut serta, rasanya seperti lumpuh.

Itu seperti gula kalau saya bilang, semua manis, bikin tersenyum. Membuat garis di bibir jadi melengkung ke atas. Seperti habis minum teh manis hangat dengan gula batu. slurupppp..

Eh tapi tunggu dulu, itu belum tentu melulu begitu. Karena gula juga bisa mencair. Kalau ia terkena terik, atau suhu tinggi. Jadi kalau sudah mencair, terkadang kaki-kaki tambahan itu sepertinya lepas dengan sendirinya. Lalu ingatan bahwa semua bisa dilakukan sendiri mulai muncul. Ingatan yang sebenarnya tidak ingin diingat. 

Akhirnya yang bisa dilakukan hanya menunggu gula cair itu jadi beku lagi. Karena, walaupun begitu ia kan tetap manis juga rasanya.

ah gula..

sebuah jeda

Mungkin, kepergianku ke "rumah baru" adalah sebuah jeda. Ataupun sebuah persinggahan. Karena aku tak pernah berani mengatakan dan me-reka masa depan bahwa ini adalah sebuah titik henti dari perjalanan. Tentu sudah banyak coretan konsep tentang masa depanku, saat ini pun ku sedang mencoret-coretnya dalam banyak lipatan waktu, tetapi aku menyerah pada apa yang akan terjadi kemudian.

Banyak harap juga angan yang kutumpuk dalam kepalaku soal keputusanku untuk pindah ke "rumah" ini dan meninggalkan banyak hal di "rumah" lama. Tak mudah, meninggalkan itu semua. Dan hingga saat ini pun banyak pertanyaan dari banyak orang tentang mengapa ku pergi dan mengapa ku meninggalkan sesuatu yang pasti ( ini menurut mereka ) menuju ke sesuatu yang penuh tanda tanya. Lelah menjawabnya, tentu saja, bahkan mendengarnya pun aku sudah muak. Karena pertanyaan itu selalu kutanyakan pada diriku sendiri. Jadi, kalau ada yang bertanya aku hanya akan menjawab, “hanya mengikuti angin”. Dan pasti mereka diam karena aku langsung memberi tanda titik karena tak ingin lagi memberi kalimat penerang di situ. Hanya titik bukan koma.

Seperti setiap kayuhan di atas sepedaku. Ada jeda nafas juga jeda gerak yang membuat sepedaku melaju lancar di atas aspal-aspal kota yang sungguh romantis (buatku) ini. Mungkin saja ini sebuah jeda sebelum ku berlari ke tempat yang lain atau mungkin saja ini sebuah jeda dari sebuah kisah indah atau bisa saja tragis (kuharap tidak) yang akan kutulis di "rumah baru" ini.

Yang jelas, sebuah jeda selalu menawarkan waktu untuk melihat, mendengar, atau sedikit menghisap asap-asap supaya ku bisa mengambil nafas untuk benar-benar memutuskan apakah aku akan berlari kembali atau cukup menulis tanda titik perhentian di sini.



*mengulang ingatan akhir tahun

yak! Januari

singkat cerita Januari ini sangat membahagiakan...

semua berjalan sesuai rencana, yaaa.... biarpun kadang mesti "agak" menuntut kesabaran tingkat dewa....

yak! Januari, Tahun Baru....
apa resolusimu di tahun baru ini? tanya seorang teman dekat
- jelasnya mau tahun ini lebih produktif dari tahun lalu, gak banyak mau ah, takut gagal lagi,,,
takut gagal lagi?
---- kemudian tertawa.....

potongan obrolan itu mengingatkan saya pada resolusi tahun lalu, sempat menginginkan ini itu segera terwujud yang ada malah meleset dari yang diharapkan...

sudahlah,, pasang target untuk hal-hal yang memang harusnya di targetkan saja...
gak usah ngoyo kalo kata mama...
semua ada waktunya,,,

yak! selamat datang Januari dan Tahun baru yang membahagiakan!

2014....