belanja bagi kita sebagai kaum wanita memang bukan sebagai hal yang asing, bahkan untuk kita sebagai wanita kegiatan ini menjadi sangat penting dalam setiap detil rangkaian aktifitas ini. dimulai masuk ke sebuah toko, pasar, atau supermarket, memilih- milih barang dan memilih barang mana yang akan dibeli yang semestinya sesuai dengan dompet saat itu. Belanja memang sudah sangat populer sejak jaman pasar mulai dikenalakan ke masyarakat kita, yang menarik ternyata aktifitas ini menjadi aktifitas kultural yang di identik kan untuk wanita.
yang jadi pertanyaan saya, kenapa belanja musti identik dengan perempuan? kenapa aneh kalo lihat laki- laki "blusukan" di pasar? kenapa aneh kalo lihat laki- laki ?
saya masih ga tahu apa yang terjadi dengan kultur belanja di kita, yang menjadi sangat spesial untuk laki- laki, menjadi sangat aneh untuk dilakukan oleh laki- laki. lebih aneh lagi saya merasa banyak pekerjaan yang memang dibentuk secara kultural hanya diperuntukan untuk wanita, lihat saja seperti mencuci, menyeterika baju, memasak. biarpun sering kita lihat realitas yang berbeda bahwa si ahli tukang masak di hotel bintang lima si chef yang ganteng dan penuh karisma dan gak menutup kemungkinan bahwa mulai banyak "bapak rumah tangga" yang dengan rela membantu untuk melakukan itu semua.
dibalik megahnya konstruksi mengenai belanja dan wanita, saya masih sedikit bertanya apakah boleh besok anak cucu kita yang berjenis kelamin laki- laki kita warisi kultur ini, bahwa belanja itu asik, menyenangkan (tanpa melihat aspek ekonomi lho ya), dan tentu saja ini bukan sesuatu yang aneh dan memalukan bagi laki- laki.
yang menarik sering kali pria dalam hidup saya (bapak) menolak dengan sangat untuk pergi ke pasar tapi beliau berhak memaksa adik laki- laki saya untuk masuk pergi ke pasar dengan segenggam catatan untuk belanja entah ke toko dekat rumah atau ke pasar sembari memberi upah kecil, trus bagaimana dengan kasus cerita ini?
disini status orang tua yang menjadi superior dan seolah- olah menjadi lembaga paling berhak menentukan kultur ini terjadi secara turum menurun dan lama, pertanyaan terbesar buat saya apakah kultur belanja yang hanya dikenalkan dan diperuntukan "katanya" untuk wanita ini juga karena adanya satu pihak yang menjadi superior??
nb: tulisan ini bukan sebagai kritik saya kepada laki- laki yang menjadi contoh diatas, tapi tulisan ini ada karena ada ego lain yang mengantarkannya menjadi beberapa kata
No comments:
Post a Comment