Tuesday, January 14, 2014

seperti gula

Selalu seperti gula, ketika orang jatuh cinta, lalu mulai meleburkan hari-harinya, mungkin juga hatinya pada yang dicinta.
Kadang jadi terlupa pada diri sendiri. Lupa bahwa bisa pergi ke warung makan sendiri, bisa pergi ke supermarket sendiri, bahkan jadi lupa bisa pergi ke toilet sendiri.

Sepertinya, sudah mulai tumbuh sepasang kaki tambahan di samping kaki yang lain. Jadi jika kaki yang sepasang tidak ikut serta, rasanya seperti lumpuh.

Itu seperti gula kalau saya bilang, semua manis, bikin tersenyum. Membuat garis di bibir jadi melengkung ke atas. Seperti habis minum teh manis hangat dengan gula batu. slurupppp..

Eh tapi tunggu dulu, itu belum tentu melulu begitu. Karena gula juga bisa mencair. Kalau ia terkena terik, atau suhu tinggi. Jadi kalau sudah mencair, terkadang kaki-kaki tambahan itu sepertinya lepas dengan sendirinya. Lalu ingatan bahwa semua bisa dilakukan sendiri mulai muncul. Ingatan yang sebenarnya tidak ingin diingat. 

Akhirnya yang bisa dilakukan hanya menunggu gula cair itu jadi beku lagi. Karena, walaupun begitu ia kan tetap manis juga rasanya.

ah gula..

sebuah jeda

Mungkin, kepergianku ke "rumah baru" adalah sebuah jeda. Ataupun sebuah persinggahan. Karena aku tak pernah berani mengatakan dan me-reka masa depan bahwa ini adalah sebuah titik henti dari perjalanan. Tentu sudah banyak coretan konsep tentang masa depanku, saat ini pun ku sedang mencoret-coretnya dalam banyak lipatan waktu, tetapi aku menyerah pada apa yang akan terjadi kemudian.

Banyak harap juga angan yang kutumpuk dalam kepalaku soal keputusanku untuk pindah ke "rumah" ini dan meninggalkan banyak hal di "rumah" lama. Tak mudah, meninggalkan itu semua. Dan hingga saat ini pun banyak pertanyaan dari banyak orang tentang mengapa ku pergi dan mengapa ku meninggalkan sesuatu yang pasti ( ini menurut mereka ) menuju ke sesuatu yang penuh tanda tanya. Lelah menjawabnya, tentu saja, bahkan mendengarnya pun aku sudah muak. Karena pertanyaan itu selalu kutanyakan pada diriku sendiri. Jadi, kalau ada yang bertanya aku hanya akan menjawab, “hanya mengikuti angin”. Dan pasti mereka diam karena aku langsung memberi tanda titik karena tak ingin lagi memberi kalimat penerang di situ. Hanya titik bukan koma.

Seperti setiap kayuhan di atas sepedaku. Ada jeda nafas juga jeda gerak yang membuat sepedaku melaju lancar di atas aspal-aspal kota yang sungguh romantis (buatku) ini. Mungkin saja ini sebuah jeda sebelum ku berlari ke tempat yang lain atau mungkin saja ini sebuah jeda dari sebuah kisah indah atau bisa saja tragis (kuharap tidak) yang akan kutulis di "rumah baru" ini.

Yang jelas, sebuah jeda selalu menawarkan waktu untuk melihat, mendengar, atau sedikit menghisap asap-asap supaya ku bisa mengambil nafas untuk benar-benar memutuskan apakah aku akan berlari kembali atau cukup menulis tanda titik perhentian di sini.



*mengulang ingatan akhir tahun

yak! Januari

singkat cerita Januari ini sangat membahagiakan...

semua berjalan sesuai rencana, yaaa.... biarpun kadang mesti "agak" menuntut kesabaran tingkat dewa....

yak! Januari, Tahun Baru....
apa resolusimu di tahun baru ini? tanya seorang teman dekat
- jelasnya mau tahun ini lebih produktif dari tahun lalu, gak banyak mau ah, takut gagal lagi,,,
takut gagal lagi?
---- kemudian tertawa.....

potongan obrolan itu mengingatkan saya pada resolusi tahun lalu, sempat menginginkan ini itu segera terwujud yang ada malah meleset dari yang diharapkan...

sudahlah,, pasang target untuk hal-hal yang memang harusnya di targetkan saja...
gak usah ngoyo kalo kata mama...
semua ada waktunya,,,

yak! selamat datang Januari dan Tahun baru yang membahagiakan!

2014....