Sunday, June 15, 2014

teruntuk tempat penuh kesabaran

selamat akhir bulan ke delapan dari aku 
tanpa perayaan, tanpa kue, tanpa lilin
ini tetap membahagiakan, 
bersamamu di delapan bulan yang membahagiakan...
(Surat dari Tuti untuk Yuda, akhir bulan Mei) 

siang itu Tuti menulis surat dengan sengaja untuk Yuda, ia merasa bahagia bukan kepalang karena ini akhir bulan. akhir bulan dimana Yuda dan Tuti selalu merayakan anniversary hubungan mereka. senyum mengembang sepanjang hari tergambar jelas dari wajah Tuti siang itu... 
berharap mendapat ucapan dari Yuda yang memang selama ini tidak pernah membalasnya. 
pada setiap surat yang Tuti tulis, ia memang tidak pernah berharap banyak terkait balasan. Yuda sudah memberi kabar ke Tuti bahwa ia sudah membaca surat dari wanitanya itu saja Tuti sudah bahagia.... 

Tuti sangat sederhana, bahkan saking sederhananya dia tidak pernah menuntut apapun dari kekasihnya. Yuda memang tidak pernah memanjakan Tuti dari awal, Tuti pun paham situasi yang dialami Yuda saat ini. 

sedikit cerita tentang pertemuan Yuda dan Tuti. sebenarnya keduanya bukan baru saja kenal. besar di satu atap jurusan, mereka memang saling mengetahui, terpaut jauh antar angkatan Yuda dan Tuti pun cenderung acuh tadinya. hanya saling melempar senyum simpul kalau keduanya berpapasan. 
hingga suatu hari mereka memang dipertemukan sebagai parter kerja dalam sebuah pekerjaan, Yuda dan Tuti masih biasa saja awalnya. hingga akhirnya mereka saling bertukar nomor telepon karena pekerjaan. 
saat itu Tuti memang tidak sedang sendiri, Tuti mempunyai teman dekat yang menurut informasi beberapa teman sudah mau menikah dengan Tuti, Yuda pun tau hal itu. 

lambat laun, komunikasi diantara mereka semakin sering terjalin. Yuda yang intens menghubungi Tuti akhirnya membuat Tuti nyaman dan merasa membutuhkan Yuda saat itu. bermula tempat cerita paling hangat, Yuda pun mendekati Tuti dengan ramah. perlahan tapi pasti Yuda menawarkan sesuatu yang baru yang memang tidak Tuti dapat dari teman prianya. 

akhirnya, Tuti berkorban untuk meninggalkan teman prianya saat itu demi Yuda. Yuda yang memang baru dikenalnya. Tuti sama sekali tidak tahu lingkungan Yuda, tidak kenal teman-teman Yuda, yang Tuti yakini bahwa Tuti saat itu nyaman dengan Yuda. Yuda menawarkan sesuatu yang baru. 

delapan bulan sudah Tuti dan Yuda berjalan beriringan sebagai pasangan, bukan tanpa badai. tidak jarang Tuti mengandalkan air matanya dalam hal-hal mungkin yang dianggap Yuda sepele. semakin hari Tuti sebenarnya semakin takut menjalani, tapi Tuti masih percaya, bahwa ada mimpi indah mereka berdua didepan sana. Bukan surga dunia atau janji sehidup semati yang Tuti mau saat ini, yang dia yakini memang Yuda masih yang terbaik diantara yang terbaik. entah tahun depan, tahun depannya lagi. Tuti tidak pernah berdoa untuk merubah sedikitpun perasaannya terhadap Yuda. 

didelapan bulan pertama hubungannya dengan Yuda, Tuti hanya berharap ini tidak akan jadi delapan bulan saja, tapi jadi perayaan sampai nanti,

Hey kamu Yuda, pria paling beruntung yang mendapatkan Tuti, mendengar cerita tentangmu saja aku iri setengah mati. kamu mendapatkan Tuti yang sabar dan tidak menuntutmu akan banyak hal. yang mencintaimu dari awal sampai sekarang tanpa meminta kamu mengucapkannya setiap hari, alangkah baiknya perlahan kamu memperhatikan dan memperlakukan Tuti dengan baik, dengan semestinya. Tuti selalu menunggu surat balasanmu, biarpun itu kaku... 
saranku, sebelum kamu kehilangan Tuti, dekaplah... 
pegang erat perlahan.... 





-cerita dari Tuti, sore itu- 
untukmu Tuti, tetap jadilah perempuan yang sabar untuk masa depan, jadilah kamu yang memang kamu mau... 

Wednesday, June 4, 2014

kemana perahu berlabuh

angin segar sore itu bagi Tuti dan Yuda yang duduk di sudut warung kopi. 
mereka duduk berdua sambil sibuk memainkan telepon pintar yang lebih setia dari pasangan mereka  mungkin... 

lama mereka  hanya sibuk dengan smartphone masing-masing, akhirnya tuti membuka obrolan mengenai hubungan diantara mereka. Tuti yang akhir-akhir ini merasa hubungannya begini-begini saja tanpa peningkatan yang membahagiakan, merasa perlu mengkonfirmasi ke Yuda terkait hubungan mereka 

Tuti "mas.., 
Yuda "apa
Tuti "mas sayang aku kan?" sambil berkaca tuti mulai memberanikan diri membuka obrolan 
Yuda" ah kamu drama, ya sayang dong, kenapa gitu kok nanya begitu" 
Tuti" aku takut sama hubungan kita mas, takut ga berarah. sejak awal tujuanku menjalani hubungan ini untuk menikah" 
Yuda" iya aku tau, 
Tuti "terus?"
Yuda" ya aku serius, tapi tidak menikah dalam waktu dekat. aku bakalan menikahimu, tapi tidak dalam waktu dekat" 

Tuti cuma bisa diam sore itu, sambil membayangkan hal terburuk dalam hubungannya satu dua tahun kedepan. Tuti memang menaruh harapan besar dalam hubungannya kali ini. Dia merasa memang orang sepeti Yuda lah yang dia cari selama ini, tapi apalah arti harapan Tuti kalaupun itu memang hanya bisa menjadi harapan.... 

karena mulai lelah Tuti pun mengatakan kepada Yuda "aku mau menikah di bulan Juni, 3 tahun lagi... 2017, kamu siap???" 

Yuda sambil menghisap rokoknya sore itu menjawab santai "ya kita lihat, show must go on or..... " 

Sore itu bagai petir bagi Tuti, dia pikir kalimat akan berpisah tidak akan pernah di sampaikan oleh kekasih dambaannya itu, ternyata tidak. Yuda tanpa beban mengatakan bisa jadi aku berlabuh denganmu, atau aku berlayar meninggalkanmu..... 

Sambil meminum kopi kesukaannya Tuti hanya bisa berdoa dalam hati, kalaupun dia menjadi tempat berlabuh, itu memang pelabuhan terakhir bagi Yuda, bukan hanya singgah sebentar
kalaupun itu jadi rumah, maka jadi rumah segala tujuan Yuda, bukan rumah hanya untuk singgah... 

dalam doa Tuti selalu menitipkan Yuda dalam keberkahan...
selamat berlayar Bung.... 


*cerita sore diwarung kopi*