harusnya cerita ini muncul diawal hubungan kami,
bukan sekarang, ketika kami sudah sama-sama bertanggung jawab lebih setiap harinya
maaf kamu bagai debu didepan halaman rumah kami
kami hanya perlu menyapunya tanpa sedikitpun ragu
maaf kamu terlalu mengganggu....
singkat cerita, sore itu saya di hubungi seorang teman lama yang saya kenal di awal bangku perkuliahan. teman asal ibu kota yang saya kenal dari teman lain. kami beda jurusan beda temen main pokoknya selama kuliah gak pernah duduk bersama untuk ngobrol, apalagi belajar. ya kami hanya saling sapa kalo simpangan aja dikampus, tanpa lebih.
sore itu, ingat betul hari senin saya dihubungi si teman lama. mengajak untuk duduk bersama makan es krim di akhir pekan. oke saya putuskan untuk mengiyakan. dengan bahagia saya sore itu menceritakan ke teman lelaki saya yang 7 bulan terakhir ini ada di hidup saya. sambil menggebu saya bilang " eh, weekend nanti aku mau makan es krim sama si teman, kamu kenal gak? dia satu kampus sama kita kok"
karena dia menggeleng kepala, saya gak habis akal untuk menunjukkan fotonya, karena kami saling follow di instagram. kemudian si teman masih menggeleng sambil berucap "aku gak kenal dia siapa, gak tau juga, tapi kalo mau pergi ya gapapa, hati hati"
dengan semangat, singkat cerita datanglah hari yang ditunggu, semangat sejak pagi menunggu jam yang kita sepakati untuk bertemu. akhirnya kita bertemu di sudut pojok toko es krim sore itu, dan kagetnya adalah si teman lama tadi memang makin cantik, makin langsing dan makin aduhai pokoknya, tapi justru pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya bukan menanyakan kabar, justru berucap "oh kamu sekarang pacarnya mas.... "
sambil kaget saya jawab " iya, kenapa ya, ada masalah ya" saat itu sih detak jantung masih biasa aja, terus si temen masih ngotot " uda berapa lama" , dengan perasaan makin curiga saya menjawab santai "oh baru kok, baru 7 bulan terakhir, oh ada apa ya"
kemudian obrolan dimulai dari si teman lama yang menceritakan pernah dekat dengan teman lelaki saya tersebut, menceritakan banyak hal yang saya sendiri juga tidak pernah tau. waktu itu dipikiran saya hanya satu " siapa bohong siapa dibohongi atau siapa dusta? saya, kamu atau pacarku?"
sore itu memang saya memilih untuk mendengarkan semua cerita dan penjelasan si teman lama, biarpun dalam hati saya sudah memutar otak bagian mana dulu yang mau saya tanyakan ke pacar. dalam hati saya, wah ternyata ada yang ngaku gak kenal ternyata...
akhirnya malam datang, dan saya memutuskan pulang....
sepanjang jalan pulang saya memang tidak menghubungi teman lelaki saya, sepanjang jalan saya berfikir, jadi si teman lama punya maksud tertentu setelah lama gak ketemu. cuma mau cerita tentang pacar saya. haha...
maaf ya, ceritamu kurang menarik...
dari semua cerita si teman lama, saya putuskan untuk menkonfirmasi ke pacar malam itu juga, ternyata benar, kenal saja tidak, apalagi seperti yang diceritakan... huh,,,
jadi apa dong ini namanya?
angin?
debu?
atau? entahlah,,,
tapi maaf, untukmu teman lama yang cukup selo menemui saya sore itu, dan menceritakan yang saya memang tidak tahu,
maaf, kami tidak serapuh yang kamu bayangkan...
selamat tinggal kamu, tempatmu cukup di warung es krim sore itu,
tidak ada tempat lain untukmu bagi kita...
tidak cukup manis di banding es krim yang kupesan...
kamu debu
kamu angin lalu.... pergilah...
Sunday, May 18, 2014
Thursday, May 15, 2014
Pilih, Katanya
Hidup ini pilihan, katanya.
Sialnya (atau untungnya, entah dari sudut mana diliatnya sih), saya bukan orang yang pintar milih.
Ikutin kata hati, katanya.
tapi kemudian, sebagai manusia kita dituntut untuk ikuti kata pikiran, merasionalisasi pilihan kita. Dituntut untuk memilih sesuatu yang bukan karena kemauan, tapi karena kebutuhan. Karena kalau ngikutin kemauan saja, kita mendadak jadi manusia yang egois, jadi anak yang durhaka, atau jadi pekerja yang males2an.
Itu semua bisa saja cuma anggapan orang lain, tapi kita sendiri sering sudah internalisasi, saat kita tidak mengikuti norma “kepantasan” masyarakat, kita merasa bersalah, merasa harus, merasa berkewajiban memilih kebutuhan daripada kemauan.
Jangan milih pakai hati, milih pakai otak, katanya
Entah siapa yang berwenang nentuin kalau hati tidak sepenting otak? lupakah kita kalau “hati” kita terbentuk lebih awal daripada otak saat kita masih dalam kandungan?
Pilih lagi nanti, katanya
Nyatanya, hidup saya penuh pilihanception. Pilihan dalam pilihan. Total mind fuck dan sering jadi sumber patah hati. Saat saya harus memilih X saat saya menginginkan Y. Saat tidak ada waktu untuk menimbang pilihan yang sebaiknya dipilih. Saat pintu “pilih lagi nanti” tertutup karena konsekuensi dari pilihan pertama. Karena saya bukan time lord yang bisa mampir-mampir ke masa lalu, bukan pula Nobita yang punya Doraemon dengan mesin waktunya. Ibarat kata roman picisan, ini udah dilamar ama si A yang baek, tapi ngarep mukjizat kalo si B yang bad boy berubah jadi baek dan ngelamar juga.
hah, taulah
Hidup ini pilihan. Semacam buku “pilih sendiri petualanganmu” tapi nyata.
Subscribe to:
Posts (Atom)