Ia lalu mengendap, mejadi sepi dibayangi luka
-Laire-
sebuah ungkapan dari Laire yang cukup mencengangkan ketika kita membacanya, ya kopi... setiap hari kutitipkan separuh perjalannku didalamnya. benar adanya kopi memang menjadi teman terbaik, bahkan ketika pahit dan getir menjadi satu rasa tak ada beda....
bicara mengenai luka mungkin itu terlalu dalam atau apalah namanya, bohong kalau kita semua belum pernah dan tidak pernah terluka, pastilah sudah jawabnya, hanya frekuensinya saja yang membedakannya. dan obatnya jelas setiap manusia dengan manusia lainnya tidak sama. berlibur ke suatu pulau kecil mungkin, atau menghabiskan berhari- hari untuk diri sendiri atau hanya mengurung diri dikamar atau apalah entah tapi setiap manusia pastilah mempunyai cara yang unik untuk menelan rasa pahit beserta getir tersebut...
begitu juga aku, tak sedikit hal yang aku lakukan untuk menghilangkan pahit yang dirasa dalam setiap tegukan kopi beserta sejuta harapan didalamnya, dan yang kali ini terasa sangat pahit. ketika dalam tegukan terakhir aku berusaha menjadikannya usaha untuk menginggat rasa terakhir dan usaha menjadikannya sebuah rasa yang terlupa dan itu sulit....
terlepas dari semua ceritamu dalam seteguk dalam gelasku, anggap saja tulisan ini untukmu yang menjadi pembaca dijauh sana, anggap saja ini sebagai salah satu bentuk ikhtiarku mengingatmu dalam satu gelas minumanku...
untuk kamu yang jauh di 560 km....