Friday, February 28, 2014

maaf kenangan

Kenangan
Seringkali seperti kumpulan mimpi indah
Meski tak jarang pula
Ia Menjelama
Serigala
Dengan seringai berkilat
Dan kuku tajam yang mudah
Meninggalkan jejak

Benar adanya kamu memang paling tahu caranya membahagiakan aku, Tapi sore lalu bagai petir bagi aku, waktu kamu menceritakan sebagain masa lalumu dengan perempuanmu kala itu. Bukan tidak bisa menerima keadaan, tapi justru berbalik, ya ini aku... Aku yang sudah memutuskan menerimamu dengan sepaket masa lalumu.
Ah,,, sayang,,,,
Semalam aku memikirkannya, bagaimana bisa aku tidur nyenyak dengan penghantar ceritamu. Cerita dimana kamu mencintainya kala itu. Dimana dia pernah menjadi bagian yang membahagiakan dalam sepenggal ceritamu. Harusnya aku tak perlu setakut ini.

Harusnya aku tidak perlu segelisah ini.
Ya dia yang membuatku ragu akan kamu
Ya dia yang membuatku berfikir dua kali untuk tetap menerimamu
Ya dia yang membuatku akhirnya berfikir ternyata aku, hanya dapat setengah dari cerita membahagiakan itu. Setengahnya dia bawa pergi....
Ah sudahlah,,
Ini bukan hal penting yang perlu kita ributkan. 

Kaget iya...

Sedih iya, tapi senengnya juga iya.. 


maaf kenangan, kamu seringkali mengunciku dalam pintu ajaib... 

Sunday, February 16, 2014

Entah ini namanya apa.


"Andai melupakan semudah mencuci piring yang kotor lalu kotorannya hilang, pasti pikiran ku tak akan penuh dengan kenangan."



Sudah hampir memakan waktu beberapa hari, bulan dan bahkan tahun, seharusnya lukanya benar-benar sembuh dan tak akan pernah lagi terasa sakit bila disentuh. Tapi ini? Tersentuh sangat halus dengan kenangan pun perihnya bagaikan luka yang ditetesi oleh cuka. Entah ini namanya apa.

Banyak yang berkata percuma aku seperti ini, padahal kau tak melakukan hal yang sama. Tapi aku tak perduli. Justru aku nikmati sakitnya, ditiap kenangan yang melintas menyentuh luka. Entah ini namanya apa.

Merindukan mu harusnya bukan lagi menjadi tugasku. Sebab tak ada lagi ikatan diantara kita. Melupakan mu harusnya menjadi pekerjaan ku sekarang. Yang sudah ku tekuni, tapi terus saja tak berhasil.

Entah ini namanya apa. Mungkin aku belum terbiasa. Sebelumnya aku terbiasa menunggu, menunggu kamu. Tapi kini? Rasanya ingin selalu memejamkan mata dan bermimpi bahwa aku masih menunggu mu. Setidaknya kau di mimpi bisa datang untuk menemui ku, tidak seperti nyatanya.

Seperti berada di tengah ribuan orang, tapi tak ada satupun yang mengenali ku. Meski kini sudah bisa bebas kembali menghirup udara, tapi tetap saja ruang di dada seperti rumah kosong. Hampa.

Belakangan, aku tak suka sendiri. Bagai ada perang di pikiran ku, di satu bagian memperjuangkan hak nya untuk melupakanmu, dan di bagian lain juga memperjuangkan hak nya untuk masih mengingatmu. Entah mana yang akan jadi juara dari perang itu. Karena aku sendiri memilih untuk menghindar, dengan tangisan.

Andai ada seseorang yang menawarkan jasa untuk bisa menghapus tiap kenangan, aku pasti akan menyerahkan apa saja untuk bisa membeli jasanya. Agar tiap mengingatmu, tak ada lagi sakit yang ku rasa.

Ku biarkan tiap tetesan air mata mengalir dalam tiap kata. Agar satu per satu dari kata itu mengalir bersama air mata dan menyatu membentuk kalimat-kalimat untuk menjelaskan segala yang terjadi saat ini. 

Sebab aku tak mengerti, terlalu rumit dari soal matematika sekalipun. Terlalu sulit diartikan maksud semuanya, padahal masih menggunakan bahasa yang biasa ku gunakan. 

Di akhir kalimat hanya ingin berkata, bahwa aku masih rindu. Entah ini namanya apa.

Kini aku hanya bayangan, yang akan dilupakan.

Sebelumnya kita tak pernah saling mengenal;

tak pernah mengetahui nama,
dan tak pernah mengetahui bagaimana bunyi suara masing-masing dari kita.

Tak pernah juga sebelumnya aku bermimpi bisa mengenal mu;
tak pernah pula berdoa untuk dipertemukan dengan mu,
dan tak pernah berharap untuk bisa melalui hari dengan mu.

Bahwa sesungguhnya kamu pernah menjadi syukur yang tak henti aku panjatkan,
kamu pernah menjadi pencipta dari segala tawa,
dan kamu pun pernah menjadi sosok yang ada saat ku membuka hingga memejamkan mata.

Tapi seketika yang sudah biasa menjadi tak biasa;
tak biasa aku terlalu lama kau biarkan sendiri,
tak biasa aku terlalu lama menunggu hanya untuk sekedar mendapat kabarmu,
dan ini tak biasa, bukan seperti kamu saat pertama kita bertemu muka.

Dan itu adalah awal aku menjadi sebuah bayangan.....

Bersiap pergi dari hati mu meski dengan kaki yang berjinjit,
mengunci rapat mulut ini agar tak ada isak tangis yang terdengar,
menahan sekuat tenaga air mata yang telah penuh di penampungannya,
dan membiarkan hati ini menahan sakit dari segala perpisahan yang akan dimulai.

Berbahagialah kamu...
yang mungkin dulu banyak waktu mu kau habiskan dengan ku, dan itu percuma.
yang mungkin dulu berada kita dalam satu dekapan, dan kini hanya saling merasa kedinginan.
yang mungkin dulu tertawa dalam ranah canda yang sama, kini tertawa dengan orang yang berbeda.
yang mungkin dulu banyak kisah kita cipta, kini hanya dikenang, diingat, lalu dilupakan.

Dan aku siap, menjadi bagian dari hidupmu dulu, menjadi kenangan dalam ingatanmu, menjadi bayangan dalam retina matamu, yang akan kamu lupakan.



-untukmu yang kembali disaat tidak tepat-
terima kasih....