Saturday, September 14, 2013

bahagia itu sederhana

ketika rambut yang dulu kau cukur habis kini mulai tumbuh, lalu memanjang melebihi tulang bahumu. Geraknya mengikutimu saat kau berjalan, berlari kecil, atau mengibas kegerahan. Menggelitik tetapi kau menyukainya. Hingga suatu saat, ada yang membelainya menjelang kau tidur. Kaupun menyukainya.
~
saat kau melewati sebuah toko tas ternama. Mahal, penuh prestise, lalu kau memutuskan untuk masuk. Berlagak ingin membeli. Memegang, mengerutkan dahi layaknya sedang memikirkan kualitas bahannya, mencobanya, bertanya pada pramuniaga apakah ada warna selain yang kau pegang karena kau tak suka. Lalu pramuniaga dengan senyum lebar – senyum yang kau yakin tak akan  begitu jika dia tahu berapa lembar ribuan rupiah sisa di dompetmu, dan tak ada kartu kredit bank manapun- dengan keramahan menjelaskan apa yang kau ingin tahu. Tapi kau tetap tidak suka. Lalu kau pergi. “Aku baru saja memegang dan mencoba tas mahal!” pekikmu dalam hati, sedang si pramuniaga hanya mengurut dada.
~
“Bapak apa kabar?? Sehat?? Ibuk sehat??”
“Alhamdulillah semua sehat. Mba gimana?? sehat kan?? Semua lancar??”
“Iya, alhamdulillah.”
“Adekmu naik 5 kilo lho.”
….Hingga kau menutup telpon dengan senyum sekaligus rindu yang ranum.
~
kue mangkuk dan sebatang eskrim rasa kejutan.
~
matahari yang baik. Matahari yang tahu bahwa cucianmu banyak dan harus kering secepatnya, sedang di hari itu kau tak punya rencana keluar rumah. Jemuranmu berjemur, di dalam rumah kau tenang tidur.
~
janji menikah pada seseorang yang sudah lama kau inginkan untuk hidup bersama. Cerita-cerita mereka – yang menikah terlebih dahulu – menguatkan tekadmu. Hilanglah kekhawatiran sewa gedung yang semakin mahal, kredit rumah yang memberatkan, serta biaya anak-anakmu sekolah nantinya.
~
janji dinikahi oleh seseorang yang sudah lama kau idamkan. Jauh di dalam dadamu, kau merasa terpuji luar biasa.
~
pernah di suatu pagi rasa malas yang terhimpit keharusan membuatmu hanya terdiam lama di dalam kamar mandi. Tak ada suara di dalam otakmu kecuali gemericik air keran hingga kemudian kau bertanya-tanya bagaimana jika air tak pernah ada?? Rasa malasmu akan jadi apa?? Lalu kau cepat-cepat mandi.
Saat waktu berbuka, pertanyaan yang sama kembali mengusikmu. Bagaimana jika air tak pernah ada?? Teh dan kopi hanya akan berupa serbuk-serbuk yang hanya akan menyumbat tenggorokan. Lalu kau cepat-cepat meneguk segelas air di hadapanmu.
Lega.
~
bangun di bawah hamparan sinar pagi. Tetes embun di ujung rambutmu memantulkannya seperti permata. Kau tetap bersemangat meski pada akhirnya orang-orang di hari ini – sama seperti hari sebelumnya – akan menginjakmu tanpa kasihan. Katamu “Di dunia ini aku rumput. Diinjak orang, lalu tumbuh lagi, lalu diinjak lagi, atau jadi pakan sapi. Tapi  sepatu yang menginjakku tak bertanah lagi, sapi yang makan aku jadi sapi yang gemuk.”
~
Yang barusan itu tidak ada sepersekian dari keseluruhan.

 

No comments:

Post a Comment