Wednesday, December 18, 2013

Kesedihan milik shaft belakang



Ibu mana yang tak ingin anak perempuannya melepas lajang untuk seorang imam?

Tuan tak bersorban,
 

Tuan mengajarkan kepatuhan 
Patuh pada janji setia dan mimpi-mimpi berdua.
Lalu aku jatuh, tuan imam menarik kencang tali kendali
Sempat sujudku mengemis jawaban, ini patuh atau rapuh? Aku pulang dan tak kembali pada shaft yang tuan pimpin.


Aku makin rapuh; Saat kutinggalkan kubah tempat tuan khusyuk mencinta, memberi ruang untuk menjadi sama-manusia biasa. Kuhindari kaki melangkah ke shaft manapun. begitupun tuan, menutup rapat-rapat pintu kubah bagi siapapun.

Ternyata tuanpun jatuh, tapi tuan tetap imam bagi siapa-siapa yang merapat beberapa jengkal di punggung tuan. Pintu kubah tuan buka; entah, mungkin gerah pada kerasnya hati untuk patuhi janji. Tuan kembali jadi imam.

Aku kenal suara itu,
Lima kali dalam sehari tangisku mengiringi pekik toa masjid dekat rumah. Tapi aku tak ingin tau siapa dara di shaft yang tuan pimpin.


Tuan tak bersorban,
Kalau saja tuan tahu, di balik kemudi motor aku tetap makmum tuan. entah kapan, suatu saat, sebagai kawan kita dipertemukan, kutinggalkan jejak basah di jalanan yang kita lewati.


Tuan tak bersorban,
Jika esok kita masih jumpa dan memang bukan sebagai kekasih, tak akan kubiarkan tuan basah oleh hujan di pelupuk mata.



Kesedihan milik shaft belakang, tuan.

No comments:

Post a Comment