Sunday, October 13, 2013

sesak

Di ponsel saya, baru saja, masuk pesan Watsap
“dita apa kabar”

Seandainya saya bisa menanyakan hal yang sama, Januari tahun lalu. Seandainya saja, ada kalimat penyejuk hati di kala saya menanti esok hari di depan khalayak.
Saya tak kuasa. Munafik kalau saya bilang saya bukan penyimpan dendam. Bukan saya benci, saya tak bisa. Saya berusaha. Sungguh. Tapi tak dapat lepas.


2010.
3 tahun yang lalu.
Saya di hadapkan pada situasi yang sungguh aneh. Masih ingat, kamu? Telunjukmu masih mengarah ke mukaku.
Maaf, tapi saya tak pernah bisa melupakan saat orang yang saya anggap baik dan dekat, justru menyalahkan saya di depan umum dan mempermalukan saya. Beritahu saya apa yang salah, akan saya perbaiki. That is a friendship should be.
Hati saya tak pernah lega. Memori itu selalu ada.
Dan, saat saya tak ada di sana, untuk mengucapkan selamat atas kebahagianmu, tentu ada alasan kenapa saya akan bertanya, “kenapa kamu tak ada di sana saat saya berada di tempatmu saat ini?”


Maaf, saya tak lega.
Saya sesak.

No comments:

Post a Comment